Jangan panggil saya cina

Posted: September 20, 2010 in Ter-inspirasi

Bagaimana kabarnya hari ini kawan-kawan semua? pasti Ruar biasa bukan ? Kata Ruar biasa sering saya gunakan untuk mensimbolkan bahwa kita benar-benar orang yang Ruar biasa (bukan biasa di Ruar… hehehe…). Itulah dahsyatnya kata-kata. Dengan kata orang bisa mengubah dunia, dan sebaliknya dengan kata pula seseorang dapat menhancurkan dunia. Makanya hati-hati dengan kata-kata.

power_in_your_nameTerinspirasi film zaman dahulu, yaitu “jangan panggil saya cina”, yang kalau nggak salah dibintangi artis cilik jaman dulu dan sekarang sudah menjadi bintang, yaitu Leony. Dan artikel kali ini saya tidak akan membahas tuntas film itu dari A sampai Z atau bahkan memperbincangkan artis utamanya. Tapi saya mengambil satu bagian dari judul itu, yaitu “jangan panggil saya cina”, lalu dipanggil apa dong ? yah panggil dengan nama kesukaan dan nama terbaik saya. Mungkin begitu jawabannya.

Teringat juga dengan perkataan guru spiritual saya, Rasulullah mengajarkan kita untuk memanggil nama orang dengan nama kesukaan orang tersebut. Kalau nama asli orang tersebut bernama Jalaludin, jangan kita panggil seenaknya dengan nama “kontet” yang mungkin kebetulan tubuh dia pendek.

Atau udah bagus-bagus nama dia, Effendi. Kita dengan seenaknya menyingkat (gak tahu singkatannya dari kamus mana) dengan sebutan Pepeng. Malah lebih parah lagi, ada orang yang namanya dari pemberian kakeknya . Dan kakeknya sangat sayang sama cucunya, hingga diberi nama Muhammad Abdul Syukur, eh… dengan seenaknya teman-temannya memanggil nama dia dengan sebutan Bedul.

Kawan, percayakan kalau nama adalah doa dan kata adalah kekuatan ?

Kalau kawan-kawan mengubah nama orang dengan seenak udelnya, berarti kawan-kawan telah mendoakan dia untuk terus menjadi “kontet” (pendek). Atau mendoakan si Effendi agar terus kurus dan kerempeng (baca : Pepeng). Dan ternyata itu sangat powerfull untuk membentuk konsep diri baru bagi orang itu, NEGATIF.

Bahkan dengan sangat cantiknya Rasulullah memanggil nama istri kesayangannya, Siti Aisyah dengan sebutan, Ya, Humairah, yang artinya berpipi kemerah-merahan. Panggilan itu meng-identifikasikan Siti Aisyah begitu sempurna di mata Rasul.

Bayangkan saja, seorang Nabi, Pemimpin besar, Panglima perang dan suri tauladan kita semua, bahkan ada sebuah buku dari orang yang non-Islam, yang menempatkan Muhammad SAW ditempat pertama sebagai orang yang paling berpengaruh didunia. Benar-benar menghargai sebuah nama. Lantas kita ?

Sudah barang tentu kita umatnya, mengikuti junjungan kita. Karena saya meyakini orang tua memberi nama anaknya kelak, agar menjadi doa dan berperilaku sesuai namanya. Saya, Anda dan kawan-kawan yang membaca artikel ini pun telah dianugrahi nama yang sangat Ruar Biasa. Contohnya saja saya (ini bukan narsis loh…) Muvtizar Solichin yang mempunyai arti sangat dalam bagi saya, yaitu seorang Hakim yang sholeh. Hakim berarti pemegang keputusan tertinggi. Kalau di Arab, biasa disebut dengan “Mufti”. Yah tentunya saya bangga dengan nama yang orang tua berikan untuk saya. Hingga tak ada oknum lagi memanggil nama saya dengan sebutan lain…

Karena bagi saya nama Mufti atau Muvti adalah harga mati buat saya, begitu juga dengan Jalaludin, Effendi dan Muhammad Abdul Syukur. Semoga kita berempat menjadi dorongan inspirasi buat kawan-kawan untuk selalu memanggil nama teman kita dengan nama terbaik yang dia suka.

Saya ulangi lagi, “karena nama adalah doa, dan kata adalah kekuatan…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s