Mie Instan saja Butuh Proses

Posted: February 28, 2013 in Ter-inspirasi

mie-instanMaaf sebelumnya kalau saya membawa-bawa nama Mie Instan. Walaupun tulisan ini memang tidak berbicara tentang mie, keuntungan membeli mie, dan berapa harganya mie instan di pasaran. Kecuali kalau ada pihak dari produk yang menawarkan kerjasamanya dengan saya, itu beda lagi urusannya.  Hehehe…

Kawan, sempat teringat curahan hati teman saya sekitar tiga tahun yang lalu yang begitu khidmat, layaknya kita mengheningkan cipta ketika upacara bendera. Yah seperti itu sensasinya. Dia menyerocos saja bak kereta api yang kejer setoran, harus nyampe sesuai jadwal. Tapi benar, kala itu aku sangat menikmati obrolan itu. Mulai dari bisnis, politik sampai urusan keluarga.

Ada satu kalimat, yang menghentak dan masuk pikiran bawah sadar saya pada saat itu, hingga dengan terpaksa pun (dalam hati bahagia) saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Sempat mengganggu sebenarnya. Tapi saya mencari alasan yang tepat untuk menangkisnya, yah minimal di pikiran saya sendiri.

Wah pada penasarankan apa kalimatnya, hmm… kurang lebih seperti ini, maaf kalau ada noise. “Ti (Dia menyingkat nama ku dari Muvti menjadi ‘Ti’), gila yah temen-temen kite. Udah pada kerja, udah pada sukses dan udah pada mapan, ada yang punya gadget bagus-bagus, motor sendiri, mobil sendiri, rumah sendiri, istri sendiri (ya iyalah) dan semuanya serba sendiri… Huff…” Helaan nafas yang membuatku tak nyaman. Kenapa? karena takutnya itu bermakna tidak bersyukur apa yang sudah kita punyai.

Dia pun menambahkan,lah kita? Sudah usaha mati-matian, masih gini-gini aja?”

Sempat saya pengen berteriak ditelinganya, “Kita? Elo kali..!” hehehe… tapi kuurungkan niat, karena saya pun ingin terus mendengarkan riakan hatinya.

“Iya Ti, masa kita gini-gini aja sih?” kalimat penutup yang membuat buluk kudukku berdiri, ternyata bukan nonton film yang berbau horor yang membuat bulu kudu saya berdiri, mendengar keluhan dia pun ternyata juga bisa membuat buku kuduk saya berdiri. Hii… serem…

Wahai kawan darimanapun juga, ingat perkataan saya yang sesuai tema judul tulisan ini, mie instan saja butuh proses. Apalagi kesuksesan dan kekayaan, kesuksesan dan Kekayaan yang penuh berkah pun tidak ada yang instan. Bahkan kalau Anda menjadikan Mie instan sebagai inspirasi Anda, lihat saja, mie instan saja butuh waktu untuk memasaknya, yah minimal lima menit. Mana ada mie instan yang baru beli di supermarket, lalu pas dituang ke piring, tuh mie sudah matang. Hahahaha…

Memang beberapa dekade akhir-akhir ini, kita dicekokki sebuah generasi instan. Yang pertama generasi MTv. Sekarang masa itu sudah berlalu, walaupun masih ada sisa-sisa taringnya. Sekarang pola pikir instan kita, sudah dirasuki hal-hal yang berbau serba cepat. Seperti pemilihan-pemilihan ajang berbakat, Indonesian Idol, Indonesian Got Talent, Indonesia mencari bakat, Artis Cilik Idola dan sekelumit acara-acara hiburan yang semakin panas nih kepala. Seolah-olah kita di ajarkan, mau menjadi sukses dan terkenal, gampang kok, tinggal aja masuk ke ajang-ajang ini, dan dinamit pun meledak. Anda menjadi pujaan sejagat.

Ternyata survey membuktikan, artis-artis atau trend setter di dunia hiburan yang di besarkan dari ajang-ajang instan ini, umurnya (masa emasnya) pun tak akan lama. Iya, memang sih, dia melesat bak roket yang terbang ke bulan. Tapi tunggu beberapa tahun kemudian, namanya pun sudah asing dimata masyarakat. Betul kan?

Kalau mau bukti, pada tahu Tukul Arwana ? apakah iya dibesarkan dari ajang-ajang yang serba instan itu, atau Iwan Fals, musisi legendaris dari Indonesia? Yah mereka dibesarkan dari PROSES. Proses jatuh bangun mereka membangun karir. Ruar biasa bukan?

Nah silahkan mengaca ke diri kita sendiri. Apakah ada sepintas bahkan berpintas-pintas dalam pikiran kita : “Kok saya belum sukses-sukses yah kaya teman saya, kok saya masih kaya gini-gini aja? dan nada-nada sumbang yang memekikkan telinga. Hmm… Anda pun sekarang sudah tahu jawabannya bukan? Yaitu PROSES. Mungkin saja Anda masih melakukan cara yang sama tapi ingin hasil yang berbeda. Kata Einstein pun itu disebut orang gak waras. Maaf agak kasar.

Tapi pernyataan saya pun dengan dasar yang benar. Kalau Anda masih merasa seperti ini? berarti ada yang kurang dalam tindakan kita. Atau strategi yang Anda gunakan salah. Atau  mungkin saja kualitas berdoanya masih kalah jauh dengan maksiat? Astaghfirullah…

Yuk, mulai hari ini, luberkan keluhan kita. Jangan diumbar lagi. Terus syukuri apa yang ada, dan berbuat yang terbaik untuk masa depan kita.  Insya Allah, itu pasti powerfull dibandingkan kita hanya mengeluh dan curhat saja.

Selamat mengambil keputusan berubah, dan persistenlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s