Emosi itu Bernama Marah

Posted: March 15, 2013 in Ter-inspirasi

marah_20090304Salam antusias rekan-rekan semua. Bagaimana kabarnya hari ini? Pagi yang cerah ini ditemani oleh musik klasik yang bersenandung pelan dan menentramkan.

Rekan-rekan. Ada pembelajaran yang sangat luar biasa terhadap saya tentang satu mahluk emosi bernama marah. “Lho kok belajar dari kemarahan sih? Bukannya marah itu buruk dan tidak baik.”

Ya memang, sekilas kita melihat marah itu tidak baik, itu kalau kita melihat satu sisi. Cobalah kita semua membiasakan melihat dari berbagai sisi. Rekan-rekan akan menemukan himah yang besar disana.

Pada pelatihan-pelatihan saya, khususnya sesi emotion management saya selalu bahagia mengatakan kepada para peserta bahwa setiap yang terjadi dalam hidup kita sifatnya netral, tinggal kita yang memberi makna. Negatif atau positif?

Contoh, misalkan Anda sedang menunggu di sebuah terminal untuk menunggu bis. Ujug-ujug (baca : tiba-tiba) ada seseorang yang tidak Anda kenal menampar Anda tepat di pipi di sebelah kanan. Pertanyaannya adalah respon apa yang Anda lakukan?

Mungkin ada sebagian dari Anda yang mengatakan, “yah saya gampar lagi. Apa-apaan dia kok tiba-tiba asal gampar.”

Atau mungkin ada yang memilih untuk marah dan bentak-bentak itu orang, hingga satu terminal memperhatikan Anda? Mungkin ada yang lebih ekstrim lagi, Anda ngajak gelut itu orang, berantem one on one.

Saya dan Anda tentunya berhak memilih respon kan? Terserah mau memilih respon yang mana. Tapi bisa juga lho memilih respon yang seperti ini, “Terimakasih yah, sudah menggampar saya. Dan itu rasanya sakit sekali. Karena digampar rasanya seperti ini, mulai saat ini dan seterusnya saya tidak akan pernah menggampar orang lain.”

Wow, respon yang sangat jauh berbeda kan? Satu kejadiaan tapi memiliki respon yang berbeda-beda. Ini lah maknanya dari kalimat ‘setiap yang terjadi dalam hidup kita sifatnya netral, tinggal kita yang memberi label. Label Negatif atau label positif?’

Sebuah kejadiaan saat orang tiba-tiba menggampar kita sesungguhnya labelnya adalah netral. Nah yang melabelkan, yang menamai, yang memaknai adalah kita. Kalau kita memaknai bahwa ini positif, maka Anda bertindak pun sesuai dengan makna yang Anda punyai.

Inilah yang sering saya sampaikan di ratusan training saya, apalagi yang menyinggung tentang emosi. Nah, bicara tentang emosi. Mungkin diantara Anda memaknai negatif. Karena kata emosi itu identik dengan marah, kesal dan berbau negatif. Bukan begitu? Kalau bukan, Alhamdulilah deh, sesuatu banget.

Ya betul sekali. Emosi itu banyak sekali macamnya, ada marah, bosan, kecewa, bahagia, senang, antusias, syukur, berkelimpahan, dan lain-lain. Karena emosi adalah sebuah mahluk, maka hal utama yang harus kita lakukan kalau ada salah satu emosi itu muncul, kita wajib awareness terhadap diri sendiri, atau peka. Kita harus kenal, emosi apa yang hadir dalam diri kita ketika ada sebuah kejadiaan yang kita alami.

Kalau sudah kenal ternyata mahluk itu bernama marah. Mulai kita kenalan lebih dalam sama si marah itu dengan self-talk terhadap diri kita. Misalnya, “Kok kamu bisa marah yah? Apa yang menyebabkan kamu marah? Apa konsekuensinya?”

Tunggu sejenak jawaban yang muncul. Apakah marah terhadap sesuatu atau marah sama seseorang. Harus jelas sejelas-sejelasnya. Usahakan ketika ber-self-talk ria Anda tulis jawabannya. Saya meyakini dengan melakukan itu pun intens kemarahan Anda berkurang drastis.

Misalkan, Anda sudah ketemu jawabannya. “Oh jadi saya marah sama si Andi” (bukan nama yang sebenarnya, hehehe…), tanya lagi! “Hal apa yang menyebabkan kamu marah sama dia?” Tunggu lagi sejenak jawaban itu.

Dan Aha, akhirnya ketemu. “Karena si Andi suka menghina saya di depan teman-teman saya”. Tanya lagi deh, “terus bagaimana caranya supaya kamu tidak marah lagi? Solusi apa yang kamu dapatkan supaya perasaan marah ini hilang.” Tunggu sejenak jawabannya.

“Oh… gitu. Mendingan saya bilang terus terang saja sama Andi. Kalau saya tidak suka Andi menghina saya. Bukankah sahabat harus saling mengingatkan? Mungkin ini jadi amal kebaikan saya untuk mengingatkan si Andi dari kesalahannya. Betul kan?” konfirmasi lagi ke diri Anda. Apakah nyaman?

Kalau nyaman, buat kontrak bawah sadar dengan mengangguk atau mengiyakan bahwa tindakan ini hasil dari self-talk kepada diri Anda sendiri. Kalau sudah yah lakukan solusi tadi. Saya yakin 100% marah Anda pasti hilang. Nggak percaya? Coba saja!

Nah gaya ini sering saya lakukan ketika intens emosi saya lagi berada di puncaknya. Karena setiap manusia tempatnya salah dan lupa kan? Tugas kita adalah mengenali emosi itu, maknai yang positif lalu temukan solusi dari self-talk Anda. Kalau sudah silahkan amati sensasi apa yang terjadi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s